Sejarah & Profil
Menelusuri jejak langkah perjuangan Pondok Pesantren Riyadlul Huda dalam mencerdaskan umat.
Sejarah Pendirian
Pendiri Pondok Pesantren Riyadlul Huda Sukaguru Tasikmalaya adalah Eyang Hanafiyah yang merupakan putra terakhir dari 20 bersaudara. Eyang Hanafiyah merupakan putra dari Eyang Uwing dan masih keturunan dari Kalijaga Cirebon yang asalnya dari Sukaraja Tasikmalaya serta memiliki ikatan keturunan Syekh Sawidak dari Embah Nurhasan.
Pada tahun 1980, Eyang Hanafiyah mendirikan mushala kecil dengan ukuran 5x7 m dan asrama sederhana di Kp. Leuwi Tunggul. Beliau memiliki putra bernama Eyang Baniyat, yang kemudian memiliki putri Hj. Mamah Munirah. Hj. Mamah Munirah menikah dengan Eyang Sa’dulloh bin H. Rauf yang berasal dari Limbangan Garut. Eyang Sa’dulloh menimba ilmu agama di berbagai daerah seperti Gentur Cianjur, Gunung Puyung Sukabumi, Keresek Garut, dan Cikalang Tasikmalaya.
Kemudian Eyang Sa’dulloh menetap di Leuwi Tunggul and meneruskan perjuangan kepemimpinan pesantren. Hj. Munirah dikenal sebagai sosok yang sangat disenangi oleh guru-gurunya, sehingga nama Leuwi Tunggul diganti menjadi Sukaguru.
Sepeninggal Eyang Sa’dulloh, terjadi kekosongan kepemimpinan yang cukup lama. Hingga akhirnya pada tahun 1984, Sukaguru menemukan penerus yang tepat, yaitu K.H. Undang Ubaidillah. Beliau adalah suami dari Hj. Dedeh Murodah (putri Abah Mastur, cucu Eyang Sa’dulloh).
Dengan keuletan dan keikhlasannya, K.H. Undang Ubaidillah mampu membawa Sukaguru melesat menjadi lebih baik. Secara bertahap, beliau membangun asrama dan fasilitas penunjang lainnya demi keberhasilan Sukaguru dalam mencetak kader-kader Warasatul Anbiya.
Visi & Misi
Visi
"Mencetak generasi rabbani yang berakhlak mulia, cerdas, dan mandiri."
Misi
- Menyelenggarakan pendidikan Islam berbasis kitab kuning.
- Mengembangkan potensi akademik dan bakat santri.
- Mewujudkan kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan.